GengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWD

“GAYA ELIT, EKSISTENSI SULIT” KUPAS TUNTAS OBSESI ‘PUNYA’ YANG BIKIN KITA LUPA ‘ADA’ Belajar dari Pikiran Erich Fromm.

waktu baca 3 menit
Senin, 13 Apr 2026 22:06 0 78 Yasmi Media

Pernah nggak sih kalian lagi asik-asik ngerumpi di kantor, yang awalnya cuma bahas harga beras atau kelakuan kucing di rumah, tiba-tiba nyemplung ke pembahasan berat soal sejarah, politik, sampai agama? Rasanya kayak lagi naik wahana kora-kora; awalnya pelan, eh tiba-tiba bikin mual tapi seru.

Itu yang saya alami beberapa waktu lalu di kantor sekolah MA Al-Ma’rif Plus. Saking asiknya ngobrol, waktu berasa lari pakai sepatu roda. Di akhir sesi “obrolan santai” itu, teman saya nyeletuk, “Buset, bacaanmu kuat banget ya, Bro? Tiap ngomong selalu ada referensinya.”

Duh, sebagai manusia biasa yang punya perasaan, tentu saja hidung saya langsung kembang-kempis, berasa berkuping besar dan terbang ke angkasa luas seperti roket Artemis II milik NASA yang baru-baru ini meluncur. Dipuji tipis-tipis itu rasanya lebih enak daripada dapat bonus akhir tahun atau Tunjangan Insentif Guru yang setelah diterima langsung ludes buat cicilan dan nutup hutang. (ya nggak juga sih, tapi mirip lah). Hehe.

Pujian teman saya itu bikin saya teringat omongan dosen Filsafat Manusia zaman kuliah dulu. Kata beliau, bedanya kita sama makhluk lain itu ada pada cara kita “ada” atau bereksistensi.

Binatang bereksistensi dengan cara berkembang biak, Tumbuhan dengan cara tumbuh, atau tunas. Sedangkan Manusia? Kita bereksistensi dengan cara terus menjadi.

Nah, untuk menjawab pertanyaan teman saya soal “rahasia” di balik referensi itu, saya coba pinjam pikirannya Erich Fromm, psikoanalis Jerman yang keren itu. Menurut Fromm, manusia itu punya dua mode dalam menjalani hidup atau bereksistensi.

Pertama, Mode “Memiliki” (To Have) Ini adalah mode paling umum di zaman sekarang. Bagi tipe manusia yang hidup dengan dengan mode ini, hidup itu soal kepemilikan.

Manusia yang berada pada mode ini, menganggap Belajar sekadar nyimpen informasi di kepala buat pamer, bukan buat dipahami. Cinta isinya cuma posesif, cemburu, dan takut kehilangan. Rasanya kayak “aku memiliki kamu”, bukan “aku menyayangi kamu”. Bahagia tergantung berapa banyak barang yang kita punya. Semakin banyak koleksi, semakin merasa diri kita “ada”.

Masalahnya, kata Fromm, mode ini adalah akar dari rasa cemas. Kenapa? Karena kita takut kehilangan hal-hal yang kita miliki itu.

Kedua, mode “menjadi” ( To Be ) Nah, ini mode yang mulai langka kayak badak bercula satu atau kunang-kunang yang sudah jarang kita temui. Di sini, hidup bukan soal punya apa, tapi mengalami apa.

Di-mode ini, Belajar itu buat memahami makna hidup. Cinta itu soal memberi ruang dan kebebasan, bukan menguasai. Bahagia itu lahir dari dalam, lewat kreativitas dan kesadaran penuh kalau kita ini “hadir”.

Sebenarnya, alasan kenapa saya suka baca dan menyelipkan referensi bukan buat gaya-gayaan (ada sih tapi sedikit), tapi karena saya ingin masuk ke mode To Be itu. Saya ingin “menjadi” manusia yang sadar.Ada satu kalimat Fromm yang kalau dipikir-pikir horor banget, melebihi cerita hantu di sekolah:”

Jika kamu adalah apa yang kamu miliki (definisi dirimu ditentukan dari harta/jabatanmu), lalu ketika kamu kehilangan semuanya, kamu bakal jadi siapa?

“Bayangkan kalau selama ini kita merasa hebat karena HP mahal, mobil kinclong, atau jabatan mentereng. Pas itu semua hilang, kita langsung jadi “zombie” yang nggak punya identitas. Kosong.

Jadi, mumpung masih sempat ngopi dan ngobrol, yuk mulai geser mode hidup kita. Jangan cuma sibuk “memiliki”, tapi mulailah “menjadi”. Karena kalau harta bisa dicuri, tapi kalau diri yang terus bertumbuh, nggak ada yang bisa ambil.

Gimana, berat nggak? Kalau pusing, ya sudah, mending kita makan gorengan sambil seruput kopi.

Ditulis Oleh: Soivi Mohamad

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bottom Menu dengan Border Melengkung