GengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWD

Kiai Abbasi Rahman: Idulfitri Momentum Kembali Suci dan Saling Memaafkan

waktu baca 2 menit
Sabtu, 21 Mar 2026 14:34 0 93 Yasmi Media

SUMENEP – Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ihsan, Kiai Abbasi Rahman, mengajak umat Islam memaknai Hari Raya Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian diri serta mempererat hubungan dengan sesama. Pesan tersebut ia sampaikan dalam khutbah Salat Idulfitri 1447 Hijriyah di Musolla Al Ikhlas, kompleks Ponpes Miftahul Ihsan, Desa Errabu, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Sabtu (21/3/2026).

Dalam khutbahnya, Kiai Abbasi menyampaikan rasa syukur karena umat Islam kembali dipertemukan dengan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Ia menjelaskan bahwa Idulfitri merupakan saat di mana seorang muslim kembali pada keadaan fitrah.

“Kita berada dalam masa fitrah. Artinya kembali ke suci lagi,” kata alumnus Pondok Pesantren Sidogiri tersebut.

Menurutnya, setelah menjalani proses penyucian diri melalui puasa Ramadan, Allah SWT memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan. Beliau menggambarkan bahwa saat umat Islam berangkat menuju tempat salat Idulfitri, mereka datang dengan harapan telah mendapatkan ampunan dari Allah.

“Kita berangkat dari rumah ke musolla, masjid dengan posisi selesai puasa, maka malaikat menyaksikan bahwa Allah sudah mengampuni dan meridhoi kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak para jemaah menjadikan Idulfitri sebagai kesempatan untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

“Setelah mendapat pengampunan Allah, kita mohon maaf ke kedua orang tua, murid terhadap guru, istri kepada suami, kepada saudara, teman, dan lain-lain. Saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan,” ujarnya.

Selain mempererat silaturahmi, Kiai Abbasi juga mengingatkan pentingnya mendoakan orang tua yang telah wafat dengan menziarahi makam mereka.

Menurutnya, doa dari anak menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua yang telah berada di alam barzah.

“Mendoakan orang tua yang sudah berada di kubur. Doakan supaya diberi keselamatan. Datangi kuburnya dengan membaca istighfar, salawat, dan lain-lain. Ini penting untuk kebahagian dan keberkahan orang tua,” ucapnya.

Sementara itu, kepada jemaah yang masih memiliki orang tua, ia menekankan pentingnya berbakti dan menjauhi sikap durhaka. Ia mengingatkan bahwa kedurhakaan kepada orang tua dapat menghalangi diterimanya amal ibadah.

“Kata Allah, barang siapa yang berpuasa sebulan penuh, tapi durhaka kepada orang tuanya tidak akan diampuni dosa-dosanya. Salat sekalipun tidak diterima selama masih durhaka kepada orang tua,” tegasnya.

Di akhir khutbah, Kiai Abbasi juga menganjurkan umat Islam untuk melanjutkan amal ibadah setelah Ramadan dengan menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal.

“Puasa 6 hari Syawal, karena orang bepuasa di Syawal pahalanya seperti puasa 1 tahun penuh,” jelasnya.

“Paling utama dimulai besok (Minggu) sampai Jumat. Jadi 6 hari. Kalau nggak sempat bisa dicicil selama masih di bulan Syawal,” imbuhnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bottom Menu dengan Border Melengkung