GengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWD

Refleksi Idul Adha Ala Rumi dan Al Ghazali

waktu baca 3 menit
Selasa, 26 Mei 2026 22:31 0 21 Yasmi Media

YASMI – Setiap Idul Adha tiba, linimasa media sosial  kita mendadak penuh dengan foto kambing yang dipakaikan kacamata, sapi nangis sebelum disembelih, atau bapak-bapak panitia kurban yang sibuk adu argumen soal potongan daging.

Seru, sih. Tapi jujur saja, kadang kita lupa kalau Idul Adha itu bukan sekadar festival sate berjamaah atau ajang pamer hewan kurban paling gemuk di kompleks rumah.

Ada esensi yang jauh lebih dalam, yang kalau kita ulek lagi, rasanya bakal bikin hati kita agak nyesss.

Dalam surah As-Saffat ayat 102–107, kita bakal disuguhi plot paling plot twist sekaligus paling berat dalam sejarah umat manusia. Bayangkan, Nabi Ibrahim AS, yang sudah bertahun-tahun mendamba seorang anak, begitu dikasih anak yang saleh dan lucu bernama Ismail, malah diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihnya.

Bagi kita yang hidup di zaman sekarang yang dikit-dikit overthinking, perintah ini pasti bikin mikir: “Kok tega, ya?” Tapi disinilah letak magisnya. Ini bukan soal tega atau tidak tega. Ini adalah ujian puncak bagi Ibrahim untuk melepaskan segala keterikatan duniawi.

Tuhan seperti sedang bertanya, “Wahai Ibrahim, di dalam hatimu, lebih besar cintamu pada anakmu, atau pada-Ku?”Lalu bagaimana respons Nabi Ismail? Alih-alih kabur atau teriak minta tolong ke Komnas Anak, dia malah bilang dengan santuy “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

“Sebuah dialog bapak-anak paling legendaris yang membuktikan bahwa iman mereka sudah selesai dengan urusan duniawi.

Jalaluddin Rumi, penyair sufi yang kata-katanya sering kita kutip buat caption Instagram itu, pernah menulis dalam  Masnawi. Kata Rumi, “ujian dan kesulitan hidup itu bukan hukuman, melainkan sarana pemurnian hati”.

Rumi menggambarkan kesusahan seperti api yang membakar kotoran pada bijih emas. Tanpa dibakar api yang panas, emas nggak akan pernah jadi murni. 

“Kisah Ibrahim dan Ismail adalah simbol perjalanan menuju Tuhan, kesempurnaan nirbatas. Perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan yang penuh dengan derita. Derita-derita tersebut adalah pelembut dan penyuci jiwa.”

Jadi, “derita” yang dialami Ibrahim saat memegang pisau, dan “derita” Ismail saat berserah diri, bukanlah penderitaan yang sia-sia. Itu adalah proses “pembakaran” ego agar yang tersisa di hati mereka hanyalah cinta murni kepada Sang Pencipta.  

Seringkali kita merasa sudah paling saleh sedunia kalau sudah transfer uang buat beli sapi untuk berkurban. Padahal, Allah sudah “menyentil” kita di surah (Al-Hajj ayat : 37) “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

“Tuhan gak butuh daging sapi kita. Panitia kurban dan tetangga kita yang butuh. Yang sampai ke arasy Tuhan itu adalah niat dan ketakwaan kita.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan perihal serupa bahwa hakikat kurban itu sebenarnya adalah latihan. Latihan melatih jiwa buat berbagi, mengasihi sesama, ini yang paling susah, mengutamakan perintah Tuhan di atas kepentingan pribadi.

Idul Adha akhirnya menjadi cermin besar buat kita semua. Menjadi seperti Ibrahim yang teguh dan Ismail yang ikhlas itu beratnya minta ampun. Perjalanan menuju iman yang matang memang penuh pengorbanan.

Tapi, justru lewat kesulitan-kesulitan itulah jiwa kita yang keras dan kikir ini perlahan dilembutkan dan dibersihkan. Ibrah yang bisa kita petik dari  idul adha ini adalah, saat melihat pisau jagal mulai diasah, coba tanyakan ke diri sendiri, selain hewan ternak, sifat buruk apa yang mau kita sembelih tahun ini? Sifat kikir kita kah? Ego kita yang setinggi langit kah? Atau rasa malas kita untuk berbagi?

Karena pada akhirnya, ketaatan dan keikhlasan adalah kurban terindah yang paling berharga bagi Allah Swt. Selamat merenung, dan selamat menikmati daging kurban, jangan lupa sedia obat kolesterol, ya ! 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bottom Menu dengan Border Melengkung