GengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWDGengWD

Gelar, Pelajaran dari Imam Hanafi

waktu baca 3 menit
Senin, 26 Jan 2026 22:32 0 200 Yasmi Media

YASMI – Gelar, jabatan, atau status sosial sering kali menjadi mahkota kebanggaan yang didambakan banyak orang. Namun, kemuliaan duniawi ini menyimpan potensi bahaya spiritual yang tak terduga, sebuah peringatan mendalam yang diabadikan dalam kisah Nu’man bin Tsabit, yang masyhur dengan gelar Imam Hanafi atau Imam Al-A’dhom.

Al kisah, dialog singkat sang Imam dengan seorang anak kecil yang justru menjadi pengingat paling bijaksana tentang pentingnya kerendahan hati di tengah puncak kehormatan.

Kisah bermula dari kepedulian tulus sang Imam. Melihat seorang anak kecil berjalan dengan alas kaki kayu atau bakiak, Nu’man bin Tsabit segera mengingatkan agar berhati-hati agar tidak tergelincir.

“Hati-hati nak, dengan sandal kayumu itu, kamu bisa tergelincir” imam Hanafi mengingatkan anak kecil tersebut. 

Si anak kecil pun tersenyum dan mengucap terimakasih pada imam Hanafi karena perhatian terhadapnya. 

“Kalau tidak keberatan, nama Tuan Siapa?” Tanya anak kecil tsb. 
“Namaku Nu’man” 
“Oh, Jadi Tuan yang Masyhur dengan gelar Imam Al-A’dhom (imam Agung) itu?” Tanya anak kecil itu dengan wajah decak kagum. 
“Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu terhadapku”. Jelas sang imam kepada anak kecil itu.

“Wahai Tuan, dengan segala hormat Aku hanya ingin berpesan.  hati-hati dengan gelarmu, jangan sampai Tuan tergelincir hanya karena gelar. Sepatu kayuku ini mungkin hanya membuatku tergelincir dengan efek keseleo di dunia. Tapi gelar Tuan, bisa menyebabkan tergelincir ke Api panas bernama neraka bila disertai sombong dan angkuh”. dengan nada jujurnya, anak kecil itu pun bertutur bak orang dewasa.

Imam Agung itu pun berderai air mata tersungkur penuh Syukur. Sujud pada Tuhan. Sebab tidak menyangka, peringatan bijaksana itu terlontar dari lidah seorang anak kecil. 

Betapa banyak diantara kita (manusia) tertipu dengan sesuatu yang hanya melekat pada diri, Entah itu sebagai gelar, Jabatan, kekayaan, maqamat, status sosial dan kedudukan di dunia. Jangan sampai tergelincir dengan sesuatu yang hanya melekat. sombong apalagi angkuh.

Anak yang diperingatkan oleh imam Hanafi tsb. membuat perbandingan tajam: sepatu kayu mungkin hanya menyebabkan keseleo duniawi, tetapi gelar yang disandang, jika disertai sombong dan angkuh, dapat menjerumuskan ke dalam “Api panas bernama neraka.”

Peringatan dari lidah seorang anak ini adalah tamparan nyata bagi kodrat manusia yang cenderung mudah tertipu oleh atribut-atribut yang melekat pada diri. Gelar, jabatan, kekayaan, atau kedudukan—semuanya hanyalah label sementara yang dapat menciptakan ilusi keagungan.

Kisah di atas dengan tegas mengingatkan bahwa betapa banyak manusia yang “tertipu dengan sesuatu yang hanya melekat,” melupakan bahwa kesombongan dan keangkuhan adalah racun spiritual.
Puncak keilmuan atau jabatan seharusnya menjadi penambah rasa syukur dan tawadhu’, bukan lahan subur bagi keangkuhan.

Reaksi Imam Hanafi terhadap teguran tak terduga ini menunjukkan kebesaran jiwanya. Ia tidak marah atau meremehkan, melainkan berderai air mata, tersungkur penuh syukur, dan bersujud.

Sikap ini adalah teladan tertinggi tentang bagaimana seorang yang sudah mencapai puncak kehormatan masih memiliki kerendahan hati untuk menerima hikmah dari sumber apapun.

Pengakuan sang Imam bahwa gelar tersebut berasal dari “prasangka baik masyarakat” dan bukan dari upaya pribadinya, menegaskan sikap yang harus dimiliki setiap individu terkemuka: gelar adalah amanah, bukan hak untuk meninggikan diri.

Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan bahwa gelar dan status sosial adalah ujian sekaligus anugerah. Ujian untuk mengendalikan hawa nafsu dari kesombongan, dan anugerah jika digunakan untuk kemaslahatan umat.
Sebuah pepatah lama mengingatkan “Sepasang tangan yang menyambutmu kala terjatuh, lebih baik daripada seribu tangan yang menyambutmu dikala kau di puncak kemuliaan”.

Nilai sejati seseorang tidak terletak pada kemilau gelarnya, melainkan pada keikhlasan hati dan kesiapan menerima kebenaran, bahkan dari suara yang paling tak terduga sekalipun.  Wallahu a’lam. 

Ditulis Oleh Soivi Mohamad
Pembaca Buku Penikmat Obrolan Warung Kopi 


Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bottom Menu dengan Border Melengkung